METODE PENAFSIRAN PARA MUFASSIR TERHADAP SURAT. AL QIYAMAH AYAT 22–23, DAN SURAT YUNUS AYAT 26 TENTANG RU’YATULLAH DIDALAM SURGA STUDY HOLISTIK USUL FIQIH,TAFSIR DAN HADITS
Keywords:
Tafsir, melihat Allah, mufassir, Surga, Al-Qur’anAbstract
Melihat Allah di surga merupakan salah satu janji yang terdapat dalam Al-Qur’an dan menjadi bagian dari keyakinan umat Islam mengenai kenikmatan ukhrawi. Ayat-ayat yang membahas fenomena ini menimbulkan beragam pemahaman di kalangan para mufassir. Penelitian ini bertujuan menelaah konsep mufassirin klasik dan kontemporer dalam menafsirkan ayat-ayat terkait melihat Allah, dengan menekankan metode tafsir yang digunakan, apakah secara literal (zahir) atau melalui pendekatan ta’wil (figuratif). Metode yang digunakan adalah library research, dengan menelaah kitab-kitab tafsir utama seperti al-Tabari, al-Qurtubi, Ibn Kathir, serta tafsir kontemporer seperti Sayyid Qutb dan Muhammad Abduh. Semua penafsiran tersebut dilandaskan pada Al-Qur’an, hadits, dan syarah hadits. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mufassirin sepakat akan kebenaran janji melihat Allah di surga, sehingga aspek keyakinan ini merupakan hal yang disepakati (ijma’). Namun, terdapat perbedaan pemahaman mengenai hakikat cara melihat Allah. Sebagian mufassirin menekankan makna zahir sesuai teks ayat, sementara yang lain menafsirkan secara ta’wil, menyesuaikan dengan kemampuan manusia memahami sifat-sifat Allah tanpa menyamakan-Nya dengan makhluk. Dengan demikian, meskipun janji melihat Allah diterima secara umum, cara dan hakikat penglihatan tetap menjadi ranah ijtihad yang beragam dalam sejarah penafsiran, mencerminkan kekayaan metode dan pemikiran dalam ilmu tafsir.







